Makalah
BATUAN
SEDIMEN ENDAPAN DELTA
OLEH :
David Satria
R1A1 16 005
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Kami juga bersyukur
atas berkat rezeki dan kesehatan yang diberikan kepada sayasehingga saya dapat
mengumpulkan bahan – bahan materi makalah ini
mengenai Batuan Sedimen Endapan
Delta.
Saya sadar bahwa makalah yang saya
buat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan saran dan
kritik yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik lagi..
Demikianlah makalah yang saya buat ini, apabila ada kesalahan dalam penulisan,
saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dan sebelumnya saya mengucapkan terima
kasih.
Hormat
saya
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR
ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 2
C. Tujuan Makalah........................................................................... 2
BAB. II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Batuan Sedimen....................................................... 3
B. Hukum
Pengendapan................................................................. 4
C. Mekanisme
Transportasi Sedimen.............................................. 4
D. Lingkungan
Pengendapan.......................................................... 8
E. Batuan
Sedimen Endapan Delta................................................ 10
BAB.
III PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................... 15
B.
Saran.............................................................................................. 16
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hasil pelapukan
dan pengikisan permukaan bumi merupakan bahan utama sedimen. Kata sedimen
berasal dari bahasa Latin, sedimentum, yang berarti pengendapan. Batuan sedimen
tersingkap paling banyak di daratan dibandingkan batuan lainnya, batuan beku
dan batuan metamorf, sebesar 75 persen luas daratan, walaupun diperkirakan
hanya 5 persen volume bagian terluar bumi. Meskipun kelihatannya kecil, namun
batuan sedimen sangat penting dalam geologi, karena didalamnya terekam sejarah
peristiwa-peristiwa (events) geologi dimasa lampau. Batuan sedimen termasuk
dalam batuan sekunder karena material pembentuknya merupakan hasil dari
aktivitas kimia dan mekanik denudasi terhadap batuan yang sudah ada. Yang
diendapkan dari larutan atau suspensi dalam air atau udara pada suhu dan
tekanan normal. Endapannya adalah hasil rombakan dan hancuran batuan kerak
bumi, terdiri dari fragmen batuan , mineral dan berbagai material lainnya,
ditransport oleh angin atau air dan diendapkan di lekukan-lekukan didarat atau
di laut. Material yang terbawa dalam suspensi mengendap karena kecepatan medium
transportasinya tertahan atau kondisi fisiknya berubah. Dan material dalam
larutan terendapkan karena perubahan kondisi kimia atau fisika medium, atau
secara tidak langsung oleh aktivitas binatang dan tumbuhan. Sedimen tidak hanya
bersumber dari darat saja, tetapi dapat juga dari yang terakumulasi ditepi-tepi
cekungan, yang melengser kebawah akibat gaya gravitasi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1.
Apa pengertian
dari batuan sedimen ?
2.
Bagaimana hukum
dari pengendapan ?
3.
Bagaimana
mekanisme dari transportasi sedimen ?
4.
Apa pengertian
dari lingkungan pengendapan ?
5.
Bagaimana proses
endapan batuan sedimen pada delta ?
C.
Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1.
Untuk mengetahui
pengertian dari batuan sedimen.
2.
Untuk mengetahui
hukum dari pengendapan
3.
Untuk mengetahui
mekanisme dari transportasi sedimen
4.
Untuk mengetahui
pengertian dari lingkungan pengendapan
5.
Untuk mengetahui
proses endapan batuan sedimen pada delta
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Batuan Sedimen
Hasil pelapukan dan pengikisan permukaan bumi
merupakan bahan utama sedimen. Kata sedimen berasal dari bahasa
Latin,sedimentum, yang berarti pengendapan. Batuan sedimen tersingkap paling
banyak di daratan dibandingkan batuan lainnya, batuan beku dan batuan metamorf,
sebesar 75 persen luas daratan, walaupun diperkirakan hanya 5 persen volume
bagian terluar bumi.
Meskipun kelihatannya kecil,
namun batuan sedimen sangat penting dalam geologi, karena didalamnya terekam
sejarah peristiwa-peristiwa (events) geologi dimasa lampau. Batuan sedimen
termasuk dalam batuan sekunder karena material pembentuknya merupakan hasil
dari aktivitas kimia dan mekanik denudasi terhadap batuan yang sudah ada. Yang
diendapkan dari larutan atau suspensi dalam air atau udara pada suhu dan
tekanan normal. Endapannya adalah hasil rombakan dan hancuran batuan kerak
bumi, terdiri dari fragmen batuan , mineral dan berbagai material lainnya,
ditransport oleh angin atau air dan diendapkan di lekukan-lekukan didarat atau
di laut. Material yang terbawa dalam suspensi mengendap karena kecepatan medium
transportasinya tertahan atau kondisi fisiknya berubah. Dan material dalam
larutan terendapkan karena perubahan kondisi kimia atau fisika medium, atau
secara tidak langsung oleh aktivitas binatang dan tumbuhan. Sedimen tidak hanya
bersumber dari darat saja, tetapi dapat juga dari yang terakumulasi ditepi-tepi
cekungan, yang melengser kebawah akibat gaya gravitasi. Meskipun secara
teoritis dibawah permukaan air tidak tejadi erosi, namun masih ada energi air,
gelombang dan arus bawah permukaan, yang mengikis terumbu-terumbu karang di
laut. Hasil kikisannya terendapkan disekitarnya, berupa hancuran. Material
sedimen dapat berupa : Fragmen dari batuan yang sudah ada dan mineral-mineral.
Misalnya kerikil di sungai, pasir di pantai dan lumpur di laut atau danau.
Material organik, seperti terumbu koral di laut, sisa-sisa cangkang organisme
air dan vegetasi di rawa-rawa. Hasil penguapan dan proses kimia, garam didanau
payau dan kasium karbonat di laut dangkal
B.
Hukum Pengendapan
Pada saat sedimen diendapkan,
mengikuti hukum alam, misalnya material yang berat akan terendapkan lebih
dahulu dibandingkan yang lebih ringan, sesuai dengan kecepatan atau energi
medium pembawanya. Mekanisme dan kondisi lingkungan pengendapan terekam dalam
sedimen dan meskipun telah mengalami diagenesa menjadi batuan sedimen. Dengan
membandingkan dengan proses yang berlangsung saat ini dan kaidahThe present is
the key to the past , dapat diketahui kondisi dan mekanisme saat pengendapan
suatu lapisan batuan sedimen jutaan tahun silam. Kecepatan pengendapan material
sedimen tergantung pada besar butirnya.
Menurut hukumStoke :
v = C.r2cm/s
dimanav
adalah kecepatan pengendapan,C suatu konstanta danr garis tengah butiran. Pada pertengahan abad
17Nicolaus Steno memper-hatikan bahwa sedimen terkumpul oleh proses pengendapan
melalui suatu medium, air atau angin. Endapan ini membentuk lapisan-lapisan
mendatar atau horizontal, yang terendapkan dahulu berada dibawah dan yang
kemudian ada di atas.Berdasarkan pengamatannya ini, pada tahun 1969 ia
mencetuskan tiga prinsip dasar yang lebih dikenal denganHukum Steno :
1.
Hukum super
posisi, yang menyatakan bahwa dalam urutan batuan yang belum mengalami
perubahan (dalam keadaan normal), batuan yang tua ada dibawah dan yang muda
berada di atas.
2.
Hukum
horizontalitas, pada awalnya sedimen diendapkan sebagai lapisan-lapisan
mendatar. Apabila dijumpai lapisan yang miring, berarti sudah mengalami
deformasi, terlipat atau tersesarkan.
3.
Hukum
kemenerusan lateral (lateral continuity), menyatakan bahwa pengendapan lapisan
batuan sedimen menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada
batas cekungan dimana ia diendapkan. Ketiga prinsip dasar ini sangat membantu
dalam mempelajari atau menentukan urutan umur lapisn-lapisan batuan sedimen.
C.
Mekanisme Transportasi Sedimen
1.
Cara Pengangkutan Sedimen
Ada dua kelompok cara mengangkut
sedimen dari batuan induknya ke tempat pengendapannya, yakni supensi
(suspendedload ) dan bedload tranport. Di bawah ini diterangkan secara garis
besar ke duanya.
a.
Suspensi
Dalam teori
segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi, jika arus cukup kuat. Akan tetapi di alam,
kenyataannya hanya material halus saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat
sedimen hasil pengendapan suspensi ini adalah mengandung prosentase masa dasar
yang tinggi sehingga butiran tampak mengambang dalam masa dasar dan umumnya
disertai memilahan butir yang buruk.
Cirilain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut tidak pernah
menyentuh dasar aliran.
b.
Bedload transport
Berdasarkan
tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi menjadi:
·
Endapan arus
traksi
·
Endapan arus
pekat (density current ) dan
Endapan
suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media
yang membawa sedimen didasarnya. Pada umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari
pada yang lainya seperti angin atau pasang-surut air laut.Sedimen yang
dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:
·
pemilahan baik
·
tidak mengandung
masa dasar
·
ada perubahan
besar butir mengecil ke atas (fining upward ) atau ke bawah (coarsening upward)
tetapi bukan perlapisan bersusun (graded bedding).
Di lain pihak, sistem arus pekat
dihasilkan dari kombinasi antara arus traksi dan suspensi. Sistem arus ini
biasanya menghasilkan suatu endapan campuran antara pasir, lanau, dan lempung
dengan jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan bersusun.
Arus pekat (density) disebabkan karena
perbedaan kepekatan (density) media. Ini bisa disebabkan karena perlapisan
panas, turbiditi dan perbedaan kadar garam. Karena gravitasi, media yang lebih
pekat akan bergerak mengalir di bawah media yang lebih encer. Dalam geologi,
aliran arus pekat di dalam cairan dikenal dengan nama turbiditi. Sedangkan arus
yang sama di dalam udara dikenal dengan nuees ardentes atau wedus gembel, suatu
endapan gas yang keluar dari gunungapi. Endapan dari suspensi pada umumnya berbutir
halus seperti lanau dan lempung yang dihembuskan angin atau endapan lempung
pelagik pada laut dalam.
Kenyataan di alam, transport dan
pengendapan sedimen tidak hanya dikuasai oleh mekanisme tertentu saja, misalnya
arus traksi saja atau arus pekat saja, tetapi lebih sering merupakan gabungan
berbagai mekanisme. Malahan dalam berbagai hal, merupakan gabungan antara
mekanik dan kimiawi. Beberapa sistem seperti itu adalah:
·
sistem arus
traksi dan suspensi
·
sistem arus
turbit dan pekat
·
sistem suspensi
dan kimiawi.
Pada dasarnya butir-butir sedimen
bergerak di dalam media pembawa, baik
berupa cairan maupun udara, dalam 3 cara yang berbeda: menggelundung (rolling),
menggeser (bouncing) dan larutan (suspension)
2.
Klasifikasi Transpor Sedimen
Transpor Sedimen Transpor sedimen diklasifikasikan
berdasarkan sumber asalnya dan mekanisme transpornya. Transpor material dasar
adalah transor (pergerakan) material yang ditemukan di dasar sungai.
·
Wash load:
sedimen yang tidak ditemukan di dasar sungai karena secara permanen
tersuspensi.
·
Bed load: sedimen yang secara kontinu berada
di dasar sungai, terangkut secara menggelinding, menggeser, melompat.
·
Suspended load: Sedimen yang tersuspensi oleh
turbulensi aliran dan tidak berada di dasar sungai
Berdasarkan
mekanisme transpornya sedimen suspense terbagi menjadi dua yaitu wash load dan
bed material transport. Wash load adalah material yang lebih halus dibandingkan
material dasar saluran. Biasanya ukuran butirannya rata-rata D 50 = 60
mikrometer untuk mudah membedakan antara wash load dan bed material load.
Transport sedimen secara umum dinyatakan sebagai berat / volume kering per waktu atau bulk
volume yang memasukkan angkapori kedalam volume tetap per unit waktu.Untuk
pengukuran ketiga jenis transport sedimen (wash load, bed load, suspended load)
dibutuhkan alat dan metode khusus. Sebelum mendiskripsikan metode pengambilan
dan elaborasi data perlu dipahami perbedaan ketiga jenis transport sedimen
tersebut
a.
Bed load
Sedimen dasar adalah transpor
dari butiran sedimen secara menggelinding, menggeser dan melompat yang terjadi
di dasar saluran. Secara umum konfigurasi dari pergerakan sedimen membentuk
konfigurasi dasar seperti dunes, ripple,etc. Banyak formulasi yang telah
dikembangkan untuk mendiskripsikan mekanisme dari sedimen dasar yang dilakukan
dengan eksperimen di laboratorium atau pun dengan memodelkan fenomena tersebut.
b.
Suspended load
Sedimen layang (suspensi)
adalah transpor butiran dasar yang tersuspensi oleh gaya gravitasi yang
diimbangi gaya angkat yang terjadi pada turbulensi aliran. Itu berarti butiran
dasar terangkat ke atas lebih besar atau kecil tapi pada akhirnya akan mengendap dan kembali ke
dasar sungai. Banyak persamaan sedimen
suspensi yangtelah dikembangkan seperti persamaan Engelund dan Hansen namun
persamaan ini tidak memberikan informasi yang cukup terkait distribusi
konsentrasi dari butiran pada arah vertical, besarnya konsentrasi (C)
ditentukan secara teoritik Dalam banyak kasus pengukuran sedimen supensi
dilakukan di lapangan agar diketahui distribusi konsentrasi arah vertikal untuk
berbagai jenis transport sedimen
c.
Wash load
Wash load adalah transpor
butiran sedimen yang berukuran kecil dan halus dibanding dengan sedimen dasar
juga sangat jarang ditemukan didasar sungai. Besarnya wash load banyak
ditentukan oleh karakteristik klimatologi dan erosi dari daerah tangkapan
(catchment area). Dalam perhitungan gerusan lokal (local scouring) wash load
tidak begitu penting sehingga diabaikan namun untuk perhitungan sedimentasi di
daerah dengan kecepatan aliran yang rendah seperti: waduk, pelabuhan, cabangan
sungai wash load diperhitungkan.
D.
Lingkungan Pengendapan
Gambar 1. Lingkungan pengendapan
Lingkungan pengendapan
adalah bagian dari permukaan bumi dimana proses fisik, kimia dan biologi
berbeda dengan daerah yang berbatasan dengannya (Selley, 1988). Sedangkan
menurut Boggs (1995) lingkungan pengendapan adalah karakteristik dari suatu
tatanan geomorfik dimana proses fisik, kimia dan biologi berlangsung yang
menghasilkan suatu jenis endapan sedimen tertentu. Nichols (1999) menambahkan
yang dimaksud dengan proses tersebut adalah proses yang berlangsung selama
proses pembentukan, transportasi dan pengendapan sedimen. Perbedaan fisik dapat
berupa elemen statis ataupun dinamis. Elemen statis antara lain geometri
cekungan, material endapan, kedalaman air dan suhu, sedangkan elemen dinamis
adalah energi, kecepatan dan arah pengendapan serta variasi angin, ombak dan
air. Termasuk dalam perbedaan kimia adalah komposisi dari cairan pembawa
sedimen, geokimia dari batuan asal di daerah tangkapan air (oksidasi dan
reduksi (Eh), keasaman (Ph), salinitas, kandungan karbon dioksida dan oksigen
dari air, presipitasi dan solusi mineral). Sedangkan perbedaan biologi tentu
saja perbedaan pada fauna dan flora di tempat sedimen diendapkan maupun daerah
sepanjang perjalanannya sebelum diendapkan.
Permukaan bumi mempunyai
morfologi yang sangat beragam, mulai dari pegunungan, lembah sungai, pedataran,
padang pasir (desert), delta sampai ke laut. Dengan analogi pembagian ini,
lingkungan pengendapan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok,
yakni darat (misalnya sungai, danau dan gurun), peralihan (atau daerah transisi
antara darat dan laut; seperti delta, lagun dan daerah pasang surut) dan laut.
Banyak penulis membagi lingkungan pengendapan berdasarkan versi masing-masing.
Selley (1988) misalnya, membagi lingkungan pengendapan menjadi 3 bagian besar:
darat, peralihan dan laut . Namun beberapa penulis lain membagi lingkungan
pengendapan ini langsung menjadi lebih rinci lagi. Lingkungan pengendapan tidak
akan dapat ditafsirkan secara akurat hanya berdasarkan suatu aspek fisik dari
batuan saja. Maka dari itu untuk menganalisis lingkungan pengendapan harus ditinjau
mengenai struktur sedimen, ukuran butir (grain size), kandungan fosil (bentuk
dan jejaknya), kandungan mineral, runtunan tegak dan hubungan lateralnya, geometri
serta distribusi batuannya.
Fasies merupakan bagian
yang sangat penting dalam mempelajari ilmu sedimentologi. Boggs (1995)
mengatakan bahwa dalam mempelajari lingkungan pengendapan sangat penting untuk
memahami dan membedakan dengan jelas antara lingkungan sedimentasi (sedimentary
environment) dengan lingkungan facies (facies environment). Lingkungan
sedimentasi dicirikan oleh sifat fisik, kimia dan biologi yang khusus yang
beroperasi menghasilkan tubuh batuan yang dicirikan oleh tekstur, struktur dan
komposisi yang spesifik. Sedangkan facies menunjuk kepada unit stratigrafi yang
dibedakan oleh litologi, struktur dan karakteristik organik yang terdeteksi di
lapangan. Kata fasies didefinisikan yang berbeda-beda oleh banyak penulis.
Namun demikian umumnya mereka sepakat bahwa fasies merupakan ciri dari suatu
satuan batuan sedimen. Ciri-ciri ini dapat berupa ciri fisik, kimia dan
biologi, seperti ukuran tubuh sedimen, struktur sedimen, besar dan bentuk
butir, warna serta kandungan biologi dari batuan sedimen tersebut. Sebagai
contoh, fasies batupasir sedang bersilangsiur (cross-bed medium sandstone facies).
Beberapa contoh istilah fasies yang dititikberatkan pada kepentingannya:
Litofasies:
didasarkan pada ciri fisik dan kimia pada suatu batuan Biofasies: didasarkan
pada kandungan fauna dan flora pada batuan Iknofasies: difokuskan pada fosil
jejak dalam batuan Berbekal pada ciri-ciri fisik, kimia dan biologi dapat
dikonstruksi lingkungan dimana suatu runtunan batuan sedimen diendapkan. Proses
rekonstruksi tersebut disebut analisa fasies.
Klasifikasi lingkungan pengendapan (Selley,
1988)
·
Terestrial Padang pasir (desert)
·
Glasial
·
Daratan
·
Sungai
·
Encer (aqueous) Rawa (paludal)
·
Lakustrin
·
Delta
·
Peralihan
·
Estuarin
·
Lagun
·
Litoral (intertidal)
·
Reef
·
Laut
·
Neritik ( kedalaman 0-200 m)
·
Batial ( kedalaman 200-2000 m)
·
Abisal ( kedalaman > 2000 m)
E.
Batuan
Sedimen Endapan Delta
Gambar 2. Lingkungan Delta
Kata Delta digunakan pertama kali oleh
Filosof Yunani yang bernama Herodotus pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya
pada suatu bidang segitiga yang dibentuk oleh oleh alluvial pada muara Sungai
Nil.Sebagian besar Delta modern saat ini berbentuk segitiga dan sebagian besar
bentuknya tidak beraturan . Bila dibandingkan dengan Delta yang pertama kali
dinyatakan oleh Herodotus pada sungai nil. Ada istilah lain dari Delta adalah
seperti yang dikemukakan oleh Elliot dan Bhatacharya (Allen, 1994) adalah
“Discrette shoreline proturberance formed when a river enters an ocean or other
large body of water”.
Proses pembentukan delta adalah akibat
akumulasi dari sedimen fluvial (sungai) pada “lacustrine” atau “marine coastline”.
Delta merupakan sebuah lingkungan yang sangat komplek dimana beberapa faktor
utama mengontrol proses distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor
tersebut adalah regime sungai, pasang surut (tide), gelombang, iklim, kedalaman
air dan subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah delta, sungai harus
mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk akumulasi aktif, dalam hal ini
prograding system. Secara sederhana ini berarti bahwa jumlah sedimen yang
diendapkan harus lebih banyak dibandingkan dengan sedimen yang terkena dampak
gelombang dan pasang surut. Dalam beberapa kasus, pengendapan sedimen fluvial
ini banyak berubah karena faktor diatas, sehingga banyak ditemukan variasi
karakteristik pengendapan sedimennya, meliputi distributary channels, river-mouth
bars, interdistributary bays, tidal flat, tidal ridges, beaches, eolian dunes,
swamps, marshes dan evavorites flats (Coleman, 1982). Ketika sebuah sungai
memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan secara drastis, yang diakibatkan
bertemunya arus sungai dengan gelombang, maka endapan-endapan yang dibawanya
akan terendapkan secara cepat dan terbentuklah sebuah delta.
Deposit (endapan) pada delta purba
telah diteliti dalam urutan umur stratigrafi, dan sedimen yang ada di delta
sangat penting dalam pencarian minyak, gas, batubara dan uranium. Delta - delta
modern saat ini berada pada semua kontinen kecuali Antartica. Bentuk delta yang
besar diakibatkan oleh sistem drainase yang aktif dengan kandungan sedimen yang
tinggi.
Klasifikasi dan pengendapan delta
Berdasarkan sumber endapannya, secara
mendasar delta dapat dibedakan menjadi dua jenis (Nemec, 1990 dalam Boggs,
1995), yaitu:
1. Non
Alluvial Delta
a. Pyroklastik
delta
b. Lava
delta
2. Alluvial
Delta
a. River
Delta :Pembentukannya dari deposit sungai tunggal.
b. Braidplain
Delta :Pembentukannya dari sistem deposit aliran “teranyam”
c. Alluvial
fan Delta :Pembentukannya pada lereng yang curam dikaki gunung yang luas yang
dibawa air.
d. Scree-apron
deltas :Terbentuk ketika endapan scree memasuki air.
Pada tahun 1975, M.O Hayes (Allen
& Coadou, 1982) mengemukakan sebuah konsep tentang klasifikasi coastal yang
didasarkan pada hubungan antara kisaran pasang surut (mikrotidal, mesotidal dan
makrotidal) dan proses sedimentologi. Pada tahun 1975, Galloway (Allen &
Coadou, 1982) menggunakan konsep in dalam penerapannya terhadap aluvial delta,
sehingga disimpulkan klasifikasi delta berdasarkan pada delta front regime
dibagi menjadi tiga , yaitu :
1. Fluvial-dominated
Delta
2. Tide-dominated
Delta
3. Wave-dominated
Delta
Fisiografi Delta
Berdasarkan
fisiografinya, delta dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian utama , yaitu :
4. Delta
plain
5. Front
Delta
6. Prodelta
Gambar 3.
Fisografi Delta dan Litologi
Gambar
4. Fisografi Delta dan Litologi
Delta plain
Delta
plain merupakan bagian kearah darat dari suatu delta. Umumnya terdiri dari
endapan marsh dan rawa yang berbutir halus seperti serpih dan bahan-bahan
organik (batubara). Delta plain merupakan bagian dari delta yang karakteristik
lingkungannya didominasi oleh proses fluvial dan tidal. Pada delta plain sangat
jarang ditemukan adanya aktivitas dari gelombang yang sangat besar. Daerah
delta plain ini ditoreh (incised) oleh fluvial distributaries dengan kedalaman
berkisar dari 5 – 30 m. Pada distributaries channel ini sering terendapkan
endapan batupasir channel-fill yang sangat baik untuk reservoir (Allen &
Coadou, 1982).
Delta front
Delta
front merupakan daerah dimana endapan sedimen dari sungai bergerak memasuki
cekungan dan berasosiasi/berinteraksi dengan proses cekungan (basinal). Akibat
adanya perubahan pada kondisi hidrolik, maka sedimen dari sungai akan memasuki
cekungan dan terjadi penurunan kecepatan secara tiba-tiba yang menyebabkan
diendapkannya material-material dari sungai tersebut. Kemudian material-material
tersebut akan didistribusikan dan dipengaruhi oleh proses basinal. Umumnya
pasir yang diendapkan pada daerah ini terendapkan pada distributary inlet
sebagai bar. Konfigurasi dan karakteristik dari bar ini umumnya sangat cocok
sebagai reservoir, didukung dengan aktivitas laut yang mempengaruhinya (Allen
& Coadou, 1982).
Prodelta
Prodelta
adalah bagian delta yang paling menjauh kearah laut atau sering disebut pula
sebagai delta front slope. Endapan prodelta biasanya dicirikan dengan endapan
berbutir halus seperti lempung dan lanau. Pada daerah ini sering ditemukan zona
lumpur (mud zone) tanpa kehadiran pasir. Batupasir umumnya terendapkan pada
delta front khususnya pada daerah distributary inlet, sehingga pada daerah
prodelta hanya diendapkan suspensi halus. Endapan-endapan prodelta merupakan
transisi kepada shelf-mud deposite. Endapan prodelta umumnya sulit dibedakan
dengan shelf-mud deposite. Keduanya hanya dapat dibedakan ketika adanya suatu
data runtutan vertikal dan horisontal yang baik (Reineck & Singh, 1980).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari
makalah ini yaitu :
1.
Kata sedimen
berasal dari bahasa Latin,sedimentum, yang berarti pengendapan. Batuan sedimen
tersingkap paling banyak di daratan dibandingkan batuan lainnya, batuan beku
dan batuan metamorf, sebesar 75 persen luas daratan, walaupun diperkirakan
hanya 5 persen volume bagian terluar bumi.
2.
Berdasarkan pengamatannya ini, pada tahun 1969
ia mencetuskan tiga prinsip dasar yang lebih dikenal dengan Hukum Steno yaitu :
·
Hukum super
posisi, yang menyatakan bahwa dalam urutan batuan yang belum mengalami
perubahan (dalam keadaan normal), batuan yang tua ada dibawah dan yang muda
berada di atas.
·
Hukum
horizontalitas, pada awalnya sedimen diendapkan sebagai lapisan-lapisan
mendatar. Apabila dijumpai lapisan yang miring, berarti sudah mengalami
deformasi, terlipat atau tersesarkan.
·
Hukum
kemenerusan lateral (lateral continuity), menyatakan bahwa pengendapan lapisan
batuan sedimen menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada
batas cekungan dimana ia diendapkan. Ketiga prinsip dasar ini sangat membantu
dalam mempelajari atau menentukan urutan umur lapisn-lapisan batuan sedimen.
3.
Ada dua kelompok
cara mengangkut sedimen dari batuan induknya ke tempat pengendapannya, yakni
supensi (suspendedload ) dan bedload tranpor.
4.
Lingkungan pengendapan adalah bagian
dari permukaan bumi dimana proses fisik, kimia dan biologi berbeda dengan
daerah yang berbatasan dengannya
5.
Proses pembentukan delta adalah akibat
akumulasi dari sedimen fluvial (sungai) pada “lacustrine” atau “marine
coastline”. Delta merupakan sebuah lingkungan yang sangat komplek dimana
beberapa faktor utama mengontrol proses distribusi sedimen dan morfologi delta,
faktor-faktor tersebut adalah regime sungai, pasang surut (tide), gelombang,
iklim, kedalaman air dan subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah delta,
sungai harus mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk akumulasi aktif,
dalam hal ini prograding system
B. Saran
Diharapkan dengan
terbentuknya makalah tentang batuan sedimen ini dapat disempurnakan menjadi
lebih lengkap dan di bahas lebih rinci tentang batuan batuan sedimen pada
lingkungan pengendapan yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://maritim.co/delta-dan-proses-pembentukannya/
Hai Teman-teman kebumian, selamat membaca ya
BalasHapus